MET News

ESDM akan Revisi Roadmap Coal Bed Methane

2014-04-01 12:18:02

JAKARTA - Pemerintah akan merevisi roadmap pengembangan coal bed methane/gas metana batubara (CBM) karena hasil yang diperoleh saat ini, tidak sesuai rencana. Dalam roadmap sebelumnya, tahun 2015 ditargetkan produksi CBM dapat mencapai 500 MMSCFD. Namun hingga tahun ini, produksi CBM masih kurang dari 1 MMSCFD. 

‎Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Hendra Fadly ‎mengatakan, roadmap yang baru tersebut akan disusun berdasarkan kondisi atau  tantangan serta peluang pengembangan CBM di Indonesia saat ini.

“Revisi roadmap ini untuk mendukung pencapaian target energi mix nasional,” ujar Hendra di Jakarta, Jumat (28/3).‎

Diakui Hendra, pengembangan CBM masih mengalami banyak kendala, antara lain minimnya rig. Untuk itu, Kementerian ESDM bekerja sama dengan perguruan tinggi, akan memproduksi rig untuk CBM. Upaya lainnya  adalah meningkatkan pengeboran sumur CBM serta alternatif penggunakan kontrak kerja sama berbentuk Gross Contract Production.

Hingga saat ini, telah ditandatangani 54 kontrak kerja sama CBM. Cadangan CBM Indonesia diperkirakan sebesar 453 TCF, terutama berlokasi di Sumatera Selatan sebesar 183 TCF, Barito 101,6 TCF, Kutai 80,4 TCF dan Sumatera Tengah 52,5 TCF.

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan Advanced Resources International, Inc (ARI) tahun 2003, Indonesia memiliki cadangan CBM sekitar 400-453  TCF dan menempati posisi ke 6 di dunia. Selengkapnya hasil evaluasi ARI mengenai cadangan CBM di dunia, sebagai berikut:

Rusia:  450-2.000 TCF

China: 700-1.270 TCF

Amerika Serikat:  500-1.500 TCF

Australia/New Zealand:  500-1.000 TCF

Kanada:  360-460 TCF

Indonesia:  400-453 TCF

Afrika bagian Selatan:  90-220 TCF

Eropa bagian Barat:  200 TCF

Ukraina:  170 TCF

Turki:  50-110 TCF

India:  70-90 TCF

Kazakhstan:  40-60 TCF

Amerika bagian Selatan/Meksiko:  50 TCF

Polandia:  20-50 TCF.

CBM adalah gas alam dengan dominan gas metana dan disertai sedikit hidrokarbon lainnya dan gas non-hidrokarbon dalam batubara hasil dari beberapa proses kimia dan fisika. CBM sama seperti gas alamkonvensional yang kita kenal saat ini, namun perbedaannya adalah CBM berasosiasi dengan batubara sebagai source rock dan reservoir-nya. Sedangkan gas alam yang kita kenal, walaupun sebagian ada yang bersumber dari batubara, diproduksikan dari reservoir pasir, gamping maupun rekahan batuan beku. Hal lain yang membedakan keduanya adalah cara penambangannya dimanareservoir CBM harus direkayasa terlebih dahulu sebelum gasnya dapat diproduksikan.

CBM diproduksi dengan cara terlebih dahulu merekayasa batubara (sebagai reservoir) agar didapatkan cukup ruang sebagai jalan keluar gasnya. Proses rekayasa diawali dengan memproduksi air (dewatering) agar terjadi perubahan keseimbangan mekanika. Setelah tekanan turun, gas batubara akan keluar dari matriks batubaranya. Gas metana kemudian akan mengalir melalui rekahan batubara (cleat) dan akhirnya keluar menuju lobang sumur. Puncak produksi CBM bervariasi antara 2 sampai 7 tahun. Sedangkan periode penurunan produksi (decline) lebih lambat dari gas alam konvensional‎.

LATEST POSTS

Starting a new business
12 February 2013

ADVERTISEMENT